Kamis, 26 Agustus 2010

" Cinta Jangan Pernah Berubah "


Aku ingin mendapatkan kebahagiaan dalam hidup
Aku ingin meraihnya dengan semangatku.,.,.,.
yang Sudah ada dalam diriku.,.,.

Sejak aku Mengeti akan Hidup ini :D

Hidup adalah cinta untuk Seseorang yang di cintai.,.,


Dengan Cinta kita Pasti mendapatkan Kebahagiaan.,.,.,
dengan Cinta Kita akan Belajar hidup di dunia.,.,.,
Kita di lahirkan di duniapun Karna cinta kedua orang tua
Maka hargailah cinta dengan Kebahagiaan Cinta

terimakasih...kamu telah Memberi Arti dalam hidupku.,.,
Aku tak akan Menyia-Nyiakan Arti cinta ini.,., Dan aku mau Cinta ini jangan Pernah Berubah.,.,.,

"SelAmAnYa.,.,.,SamPaI kITa MenInGaLkAn DunIA Yang PaNa InI"

Kamis, 07 Januari 2010

Pemanfaatan Lignin dari Limbah Industri Kertas dan Serbuk Gergaji untuk Pembuatan Turunan Antibiotik C-9154

Industri pulp kertas dan kayu lapis merupakan 2 jenis industri yang berkembang pesat di Indonesia. Industri pulp menghasilkan limbah berupa lindi hitam dan industri kayu lapis menghasilkan serbuk gergaji yang banyak mengan-dung lignin (15-35%). Mengingat tingginya volume limbah yang mengandung lignin di dalam negeri, maka akan sangat menguntungkan sekiranya limbah tersebut dapat diubah menjadi produk yang lebih berdaya guna. Lignin telah lama dimanfaatkan di negara-negara Barat untuk pembuatan vanilin. Metode baku untuk mengubah lignin menjadi vanilin pun mudah ditemukan dalam pustaka. Berdasarkan struktur kimianya, vanilin mungkin dapat diubah menjadi turunan antibiotik C-9154. Antibiotik C-9154 sendiri merupakan antibiotik berspektrum luas (MIC 10-100 mcg/ml) yang dihasilkan lewat proses fermentasi. Namun, antibiotik ini kurang berkembang dan belum diproduksi secara komersial akibat efisiensi produksinya yang rendah (0.02%).
Penelitian ini bertujuan menemukan metode yang efisien untuk pengubahan lignin menjadi turunan antibiotik C-9154. Di samping itu, juga diupayakan penganekaragaman struktur antibiotik C-9154. Pembuatan turunan antibiotik C-9154 dari lignin secara umum dibagi dalam 2 tahap. Pertama, pengubahan lignin menjadi vanilin sesuai dengan prosedur Hartley, dan kedua, transformasi vanilin menjadi turunan antibiotik C-9154.
Lignin berbentuk padatan amorf dan berwama coklat dengan rendemen 17.5% (b/v) dapat diperoleh melalui pengasaman menggunakan HCl pekat terhadap cairan limbah pekat PN Kertas Leces Probolinggo. Di sisi lain, lignin berwarna coklat tua juga berbentuk padatan amorf dapat diperoleh dari serbuk gergaji yang berasal dari kayu Kalimantan dengan rendemen 36% berdasar prosedur Klason, dan 8% berdasar cara Pepper. Degradasi oksidatif lignin menjadi vanilin dikerjakan menggunakan campuran NaOH 0.2N dan nitrobenzena dengan nisbah volume 16:1 dalam reaktor tertutup pada suhu 160°C selama 2 jam. Dari 1.0 g lignin diperoleh 0.68 g produk kotor yang berdasar data kromatografi gas-spektrometer massa (GC-MS) mengandung 3 komponen utama, yaitu p-hidroksibenzaldehida (tR 12.92 menit, 22%, m/z 122), vanilin (tR 13.13 menit, 19%, m/z 152) dan 3,5-dimetoksi-4-hidroksibenzaldehida (tR 16.66 menit, 5%, m/s 182). Vanilin dari campuran produk tersebut selanjutnya dipisahkan dengan kromatografi kolom menggunakan fase diam silika gel dan eluen diklorometana. Pengubahan vanilin menjadi turunan antibiotik C-9154 telah dicoba dengan beberapa metode. Dari berbagai metode yang telah dicoba, hasil terbaik dicapai dengan rangkaian reaksi berikut: (1) alkilasi vanilin dengan dietil sulfat, (2) konversi etil vanilin yang diperoleh dengan HO-NH2 menjadi oksim terkait, (3) reduksi derivat benzaldoksim hasil tahap 2 dengan Na/etanol, (4) kondensasi 4-etoksi-3-metoksibenzilamina hasil dengan maleat anhidrida, dan (5) esterifikasi asam karboksilat hasil tahap 4 dengan etanol. Efektivitas metode ini terlihat bukan hanya dari tingginya rendemen hasil pada setiap langkahnya (>70%) tetapi juga dari kemudahan dan keandalan proses reaksinya yang hampir selalu dapat diulang sekalipun dalam skala relatif besar (~30 g). Walaupun kerangka karbon samping dari produk akhir kekurangan satu gugus C=O jika dibandingkan dengan struktur C-9154, data uji khasiat hayati menunjukkan bahwa keberadaan gugus C=O tersebut tidak mutlak.
Prinsip reaksi tersebut telah digunakan pula untuk pembuatan turunan antibiotik C-9154 dalam bentuk senyawa diester. Dalam hal ini, rangkaian reaksi terdiri atas (1) alkilasi vanilin dengan dietilsulfat, (2) reduksi etil vanilin hasil dengan LiBH4, (3) kondensasi 4-etoksi-3-metoksibenzil alkohol yang diperoleh dengan maleat anhidrida, dan (4) esterifikasi bentuk asam turunan C-9154 hasil tahap 3 dengan etanol. Percobaan ini memuaskan dengan rendemen di atas 70% untuk setiap langkahnya.
Khasiat antimikrob dari turunan antibiotik C-9154 yang diperoleh diuji menggunakan Staphyllococcus aureus dan Escherichia coli. Hasil pengukuran konsentrasi hambat minimum (MIC) dengan pembanding metanol dalam air dan keempat turunan C-9154 hasil sintesis menunjukkan khasiat dengan kekuatan berbeda. Dua senyawa yang merupakan bentuk asam turunan C-9154 hanya memperlihatkan efek hambatan lemah (MIC 1500-3000 mcg/ml), sedangkan senyawa yang merupakan bentuk etil ester menunjukkan efek hambatan yang cukup nyata (MIC 400-1000 mcg/ml) walaupun belum sekuat efek hambatan dari antibiotik C-9154 standar (MIC 10-100 mcg/ml). Terjadi peningkatan khasiat antimikrob sekitar 3-4 kali dari senyawa bergugus asam menjadi senyawa bentuk etil ester.
Mengingat tingginya tingkat efektivitas jalur sintesis yang telah ditemukan dan cukup mudahnya menganekaragamkan struktur produk, upaya mendapatkan turunan yang memiliki khasiat antimikrob cukup tinggi di masa depan sangat terbuka. Penelitian selanjutnya perlu diarahkan pada penggunaan senyawa yang diperoleh sebagai bahan antiseptik.

PEMBUATAN CuSO4.5H2O

PEMBUATAN CuSO4.5H2O
MAKING OF CuSO4.5H2O
ANNISA SYABATINI
JIB107032
KELOMPOK 1
PS S-1 KIMIA FMIPA UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
ABSTRACT
The experiment purpose is making and recognizing the nature of copper crystal (II) sulphate, comprehending process of crystal forming. Copper (II) sulfate is the chemical compound with the formula CuSO4. This salt exists as a series of compounds that differ in their degree of hydration. The anhydrous form is a pale green or gray-white powder, whereas the pentahydrate, the most commonly encountered salt, is bright blue. The anhydrous form occurs as a rare mineral known as chalcocyanite. The hydrated copper sulfate occurs in nature as chalcanthite (pentahydrate), and two more rare ones: bonattite (trihydrate) and boothite (heptahydrate). Archaic names for copper (II) sulfate are “blue vitriol” and “bluestone”. Copper (II) sulfate pentahydrate decomposes before melting, losing four water molecules at 110 °C and all five at 150 °C. At 650 °C, copper (II) sulfate decomposes into copper (II) oxide (CuO) and sulfur trioxide (SO3). Its blue color is due to water of hydration. When heated in an open flame the crystals are dehydrated and turn grayish-white.
Key Words : cooper (II) sulfate, blue vitriol
ABSTRAK
Tujuan dari percobaan ini adalah membuat dan mengenal sifat kristal tembaga (II) sulfat, memahami proses pembentukan kristal. Tembaga (II) sulfat, campuran kimia dengan rumus CuSO4. Garam ini ada sebagai rangkaian campuran yang berbeda di dalam derajat tingkat hidrasi mereka. Tembaga (II) sulfat berbentuk serbuk, manakala tembaga (II) sulfat terhidrat berwarna biru terang. Nama kuno bagi tembaga (II) sulfat ialah vitriol biru. Kebanyakan kuprum sulfat wujud dalam alam semulajadi dalam bentuk pentahidrat (CuSO4·5H2O). Mineral ini dikenali sebagai kalkantit. Tembaga (II) sulfat mengurai sebelum melebur. Bentuk pentahidrat yang lazim terhidratnya, yaitu kehilangan empat molekul airnya pada 110 °C dan kelima-lima molekul air pada 150 °C. Pada 650 °C, tembaga (II) sulfat mengurai menjadi tembaga (II) oksida (CuO), sulfur dioksida (SO2) dan oksigen (O2).
Kata Kunci : tembaga (II) sulfat, vitriol biru
PEDAHULUAN
Dalam suatu Sistem Periodik Unsur (SPU), tembaga (Cu) termasuk ke dalam golongan 11. Tembaga, perak dan emas disebut logam koin karena dipakai sejak lama sebagai uang dalam bentuk lempengan (koin). Hal ini disebabkan oleh logam ini tidak reaktif, sehingga tidak berubah dalam waktu yang lama. Tembaga adalah logam berdaya hantar listrik tinggi, maka dipakai sebagai kabel listrik. Tembaga tidak larut dalam asam yang bukan pengoksidasi tetapi tembaga teroksidasi oleh HNO3 sehingga tembaga larut dalam HNO3 [1]. Bentuk pentahidrat yang lazim terhidratnya, yaitu kehilangan empat molekul airnya pada 110 °C dan kelima-lima molekul air pada 150 °C. Pada 650 °C, tembaga (II) sulfat mengurai menjadi tembaga (II) oksida (CuO), sulfur dioksida (SO2) dan oksigen (O2) [2].
Tembaga (Cu) merupakan salah satu logam yang paling ringan dan paling aktif. Cu+ mengalami disproporsionasi secara spontan pada keadaan standar (baku). Hal ini bukan berarti larutan senyawa Cu(I) tidak mungkin terbentuk. Untuk menilai pada keadaan bagaimana mereka ditemukan, yaitu jika kita mencoba membuat (Cu+) cukup banyak pada larutan air, Cu2+ akan berada pada jumlah banyak (sebab konsentrasinya harus sekitar dua juta dikalikan pangkat dua dari Cu­­+. Disproporsionasi akan menajdi sempurna. Di lain pihak jika Cu+ dijaga sangat rendah (seperti pada zat yang sedikit larut atau ion kompleks mantap), Cu2+ sangat kecil dan tembaga (I) menjadi mantap [3].
Tembaga (II) sulfat mempunyai banyak kegunaan di bidang industri diantaranya untuk mebuat campuran Bordeaux (sejenis fungisida) dan senyawa tembaga lainnya. Senyawa ini juga digunakan dalam penyepuhan dan pewarnaan tekstil serta sebagai bahan pengawet kayu. Bentuk anhidratnya digunakan untuk mendeteksi air dalam jumlah kelumit. Tembaga sulfat juga dikenal sebagai vitriol biru [4].
Tembaga (II) sulfat merupakan padatan kristal biru, CuSO4.5H2O triklini. Pentahidratnya kehilangan 4 molekul air pada 1100 C dan yang ke lima pada 1500C membentuk senyawa anhidrat berwarna putih. Pentahidrat ini dibuat dengan mereaksikan tembaga (II) oksida atau tembaga (II) karbonat dengan H2SO4 encer, larutannya dipanaskan hingga jenuh dan pentahidrat yang biru mengkristal jika didinginkan. Pada skala industri, senyawa ini dibuat dengan memompa udara melaluicampuran tembaga panas dengan H2SO4 encer. Dalam bentuk pentahidrat, setiap ion tembaga (II) dikelilingi oleh empat molekul air pada setiap sudut segi empat, kedudukan kelima dan keenam dari oktahedral ditempati oleh atom oksigen dari anion sulfat, sedangkan molekul air kelima terikat oleh ikatan hidrogen [4]
Salah satu sifat dari logam tembaga yaitu tembaga tidak larut dalam asam yang bukan pengoksidasi tetapi tembaga teroksidasi oleh HNO3 sehingga tembaga larut dalam HNO3.
3Cu(s)­ + 8H+(aq) + 2NO3-(aq) 3Cu2+(aq)­ + 2NO(g) + 4H2O
Logam tembaga dibuat dari tembaga sulfida (Cu2S) yang dioksidasi dengan oksigen.
Cu2S + 2O2 2CuO + SO2
2CuO + Cu2S SO2 + 4Cu
[1].
Garam tembaga dalam larutan berwarna biru pucat, karena membentuk ion Cu(H2O)42+. Jika larutan ini ditambah amonia akan menghasilkan ion Cu(NH3)42+ yang berwarna biru pekat. Senyawa CuCl2, Cu2Br2, Cu2I2 sukar larut dalam air dengan Ksp masing-masing 1,9.10-7, 5.10-9, dan 1.10-12. Senyawa Cu2O dan Cu2S dapat dibuat langsung dari unsurnya pada suhu tinggi. Kedua senyawa ini cenderung nonstoikiometrik karena dapat pula sebagian membentuk CuO dan CuS [1].
Senyawa-senyawa Cu (I) berwarna putih kecuali oksidasinya merah. Sedangkan senyawa Cu (II) hidratnaya biru dan anhidratnya abu-abu. Senyawa-senyawa Cu (II) lebih stabil dalam larutan. Mereka beracun dan mengion yang berwarna gelap (biru gelap) yang terbentuk dengan larutan amonia berlebihan. Cu digunakan buat kabel/kawat/peralatan listrik; dalam logam-logam paduan; monel, perunggu kuningan, perak jerman, perak nikel untuk ketel dan lain-lain [3].
Secara umum garam tembaga (I) tidak larut dalam air dan tidak berwarna, perilakunya mirip perilaku senyawa perak (I). Mereka mudah dioksidasi menjadi senyawa tembaga (II), yang dapat diturunkan dari tembaga(II) oksida, CuO, hitam. Garam-garam tembaga (II) umumnya berwarna biru, baik dalam bentuk hidrat, padat, maupun dalam larutan air; warna ini benar-benar khas hanya untuk ion tetraakuokuprat (II) [Cu(H2O)4]2+ saja. Batas terlihatnya warna ion kompleks tetraakuokuprat(II) (yaitu, warna ion tembaga (II) dalam larutan air), adalah 500 μg dalam batas konsentrasi 1 dalam 104. Garam-garam tembaga (II) anhidrat, seperti tembaga (II) sulfat anhidrat CuSO4, berwarna putih (atau sedikit kuning) [1].
Larutan amonia bila ditambahkan dalam jumlah yang sangat sedikit terbentuk endapan biru suatu garam basa (tembaga sulfat basa). Bila dalam keadaan basah dibiarkan terkena udara, tembaga (II) sulfida cenderung teroksidasi menjadi tembaga (II) sulfat, dan karenanya menjadi dapat larut dalam air. Banyak sekali panas yang dilepaskan pada proses ini [4].
METODE PERCOBAAN
A. Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah gelas piala 400 ml, gelas ukur 100 ml, gelas ukur 50 ml, neraca, batang pengaduk, pipet tetes.
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah H2SO4 pekat,
keping tembaga, HNO3 pekat, aquades dan kertas saring.
B. Cara Kerja
Sebanyak 50 mL air dimasukkan ke dalam gelas piala, ditambahkan 10 mL H2SO4 pekat. 10 gram tembaga dimasukkan, ditambahkan 15 mL HNO3 pekat, kemudian diaduk sehingga semua tembaga melarut. campuran tersebut lalu dipanaskan (setelah gas berwarna coklat tua tidak keluar, sehingga uap tidak lagi berwarna coklat muda). Ketika masih panas campuran disaring (jika masih terdapat tembaga yang tidak melarut). Disimpan larutan sehingga terbentuk kristal, lalu dicuci kristalnya dengan sedikit air, kemudian dilarutkan ke dalam air sedikit mungkin dan kristalkan kembali. Dilakukan terus tahap 9 sehingga kristal bebas dari nitrat. Berat kristal yang diperoleh ditimbang.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
No.
Prosedur Percobaan
Hasil Pengamatan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Dimasukkan air ke dalam gelas beker.
Ditambahkan 10 mL H2SO4 pekat.
Ditambahkan 5 gram tembaga.
Ditambahkan 15 mL HNO3 pekat.
Dilakukan pengadukan terus menerus ± 30 menit.
Dipanaskan.
Disaring larutan
Didiamkan dan Ditimbang kristal yang terbentuk
V = 50 mL
Larutan bening dan hangat.
Larutan berwarna bening, dan tembaga tidak larut.
Larutan mendidih, warna larutan biru keruh, dan terdapat uap berwarna coklat.
Tembaga melarut.
Larutan berwarna biru bening, dan terdapat uap putih.
Filtrat berwarna biru.
Kristal berwarna biru (m = 14,18 gram)
Perhitungan
Diketahui :
m Cu = 10 g
m kristal = 14,18 g
BM CuSO4.5H2O = 249,55 g/mol
BA Cu = 63,55 g/mol
Ditanya : Rendemen = …..
Jawab :

Reaksi : Cu2+ + SO42- + 5H2O → CuSO4.5H2O
mol CuSO4.5H2O = mol Cu = 0,1573mol
Massa CuSO4.5H2O
= mol CuSO4.5H2O x BMCuSO4.5H2O
= 0,1573mol x 249,55 gram/mol
=39,2682 gram
Rendemen
=
=
= 36,1 %
B. Pembahasan
Pada percobaan ini dilakukan pembuatan tembaga (II) sulfat, yang kemudian pada akhirnya akan terbentuk kristal tembaga (II) sulfat. Dari 50 mL akuades dimasukkan ke dalamnya asam sulfat pekat, kemudian ditambah dengan tembaga dan asam nitrat pekat. Tujuan dari diperlukannya bahan-bahan tersebut, terutama asam sulfat adalah ditujukan agar terbentuknya garam CuSO4. Persamaan reaksinya adalah sebagai berikut :
Cu + H2SO4 → CuSO4 + SO2 + 2 H2O
Selanjutnya tujuan dari dilakukannya penambahan asam nitrat pekat adalah untuk mengaktifkan tembaga agar ia dapat bereaksi dengan asam sulfat. Dari penambahan asam nitrat pekat ini menyebabkan tembaga melarut dan larutan menjadi berwarna biru keruh serta terdapat uap berwarna coklat. Uap ini terbentuk sebagai akibat tembaga yang ditambahkan atau direaksikan dengan asam nitrat pekat. Karena diperlukan waktu yang tidak sedikit dari reaksi antara tembaga dan asam nitrat pekat, maka dalam proses ini diperlukan pengadukan sampai seluruh tembaga larut. Persamaan reaksinya adalah sebagai berikut:
Cu + 4 HNO3 → 3 Cu(NO3)2 + 2 NO2 + 4 H2O
Larutan yang telah ditambahkan beberapa senyawa tadi, selanjutnya dipanaskan dengan tujuan untuk mempercepat proses reaksi. Selain itu, tujuan dari pemanasan ini adalah untuk memperbesar hasil kali dari ion-ionnya dan memperkecil harga hasil kali kelarutannya (Ksp), sehingga hal ini dapat membentuk endapan kristal. Kristal yang terbentuk inilah yang dinamakan tembaga (II) sulfat. Persamaan reaksi yang secara lengkapnya adalah sebagai berikut:
Cu+ 3H2O + H2SO4+2HNO3 → CuSO4+5H2O+2NO2
Dari pemanasan yang telah dilakukan, terbentuk larutan berwarna biru tua. Untuk memisahkan filtrat dengan endapan (zat pengotor) maka dilakukan penyaringan. Penyaringan tidak dilakukan ketika larutan telah dingin, melainkan dilakukan saat larutan tersebut masih panas. Hal ini ditujukan agar pembentukan kristal yang tidak diharapkan (kristal yang masih mengandung zat pengotor) dapat terhindar. Dari hasil penyaringan diperoleh larutan berwarna biru tua dengan endapan (yang mengandung zat pengotor) berwarna hijau. Selanjutnya, filtrat yang telah disaring didiamkan selama satu hari untuk mendapatkan kristal dari tembaga (II) sulfat. Persamaan reaksinya adalah sebagai berikut:
Cu(NO3)2 + H2SO4 → CuSO4 + 2HNO3
CuSO4 + 5H2O → CuSO4.5H2O
Kristal yang diperoleh setelah didiamkan selama satu hari menghasilkan warna biru, dengan bentuk seperti gel yang lembut. Untuk mendapatkan kristal yang murni, maka dilakukan proses pengeringan. Dari proses ini diperoleh zat yang diinginkan yang bebas dari zat pengotor. Proses yang terjadi adalah sebagai berikut:
Cu2++3H2O+H2SO4+2HNO3→CuSO4.5H2O+ 2NO2
Kristal yang diperoleh, kemudian ditimbang. Dari hasil penimbangan didapatkan massa kristal CuSO4.5H2O sebesar 14,18 gram dan dari hasil perhitungan diperoleh rendemen kristal tersebut sebesar 36,1 %.
KESIMPULAN
Pembuatan kristal CuSO4.5H2O dapat dilakukan dengan mereaksikan logam tembaga dengan asam sulfat pekat dan asam nitrat pekat serta dengan air, proses pembuatan CuSO4.5H2O diperlukan waktu satu hari sampai terbentuknya kristal, kristal CuSO4.5H2O merupakan kristal yang berwarna biru berbentuk gel yang lembut, massa kristal CuSO4.5H2O yang diperoleh dari percobaan ini adalah sebesar 14,18 gram dan rendemen dari kristal CuSO4.5H2O adalah sebesar 36,1 %.
REFERENSI
1. Keenan, Kleinfelter, Wood. 1992. Kimia Untuk Universitas. Jilid 2. Edisi Keenam. Erlangga. Jakarta.
2. Dickey, R. D. 1972. Identification and Correction of Copper Deficiency of Rhododendron Simsi ‘George Lindley Taber’ Cuttings. http://www.google.com.
Diakses, 24 November 2008.
3. Petrucci, Ralph H, 1987, alih bahasa Suminar Ahmadi, Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern, Jilid 3, Penerbit Erlangga

Cinta bisa mempesonakan kita????

cinta itu sungguh menyenangkan .,.,jika di ikuti dengan kasih sayang...

tapi???kalau cinta cinta di ikuti kebencian .,.,akan menimbulkan .,.,malapetaka..


cmkan itu.,.,.,.,



sorry ya.,.,cerpen belum bisa di lanjutkan.,.,ok.,.,.,tunggu aja yach.,.,.,

Jumat, 30 Oktober 2009

"arti cinta dalam hidup"

.,.,..,
setelah itu ardi dan andri melnjutkan perbincangan,,,,andri berkata "mau pergi kemana man????/././././....ardi menjawab " kita pergi camping man??? gmna???pasti seru tuch.,.,.,kali aja w bisa ketemu cewe yang tadi w ceriatai sama lo????.,.,.,ok bro???/./././.andri menjawab " boleh bro/./.kita jalan kapan??? (andri binggung?)/.//.
ardi pun menjawab.,.," gimana sich lo??? ya sekarang lan massssaaa tahun depan.,.,.,dasar lemot.,.,,.,.
andri : " iya -iya kita jalan.,.,.,w siap-siap dlu yach.,..,????ok man.,.,.,
ardi : " yaudah sana siapa siap .,.,w tunggu di sini.,.,.,???gpl.,.,ok/./.
anri : " iya...
selama menunggu andri siap- siap (untuk pergi camping).,.,.,adri melamun """"cewe yang tadi cantik bangat.,.,kapan w bisa ketemu dia.,.,mudah2xan aja w bisa ketemu dia.,.,heheheh (sambil tersenyum).,.,sudah 3 jam berlalu andri tak kunjung keluar.,..,ardi pun malai BT menunggu andri.,.,.,(lama bangat nich orang kaya cewe aja.,.,).,.,ardi memangil.,.,.,.,"andri lama bangat lo?????????????????????????.,.,.,
andri tiuak mendengar .,.,pangilan ardi.,.,.,ardi diam aja (sambil BT).,.,.,tapi ngak lama kemudian andri pun keluar.,.,dan dia sudah siap untuk jalan .,.,.,andri berkata "man ayu kita jalan???w dah siap nich).,.,.,ardi menjawab dengan ketus "dari tadi juga w dah siap kali????.,.,yaudah kita jalan.,.,
kedua sahabat ini pun meninggalkan rumah dan menuju mobil untuk menuju.,.,tempat camping????????


mau tahu lebih jelas ??? tunggu ya.,.,.,new update.,.,


by edi suryadi,.,.,

"Foto teman 2x seru2x.,.,hihihihih.,.,"


ini foto waktu.,.,., acara buka puasa reruuu beuttttttttt.,.,.,hahahahhahaha.,.,.,.,.,narsis ya.,.,.,wakakwakwkawkakwkawk.,.,.,salam buat semunya.,.,okay.,.,.,mau tahu lebih jauh.,.,lanjut ya??????

"arti cinta dalam hidup"

kemudian mereka berbibcang-bincang dan membicarakan wanita yang di lihat oleh ardi, setelah ngobrol panjang lebar... andri tetap tidak mengerti karena dia agak lemot.,.,., setelah begitu lama..andri berkata " kenapa di??? lo ngomongin cewe yang mana???.,.,.,andri binggung dan berkata "lo bilanga apa??? berarti dari tadi w ngomong lo ngak ngerti????????????.,.,.,dasar lemot.,.,.udahlah kita jalan aja yu???????


besok lanjut lagi yah.,..,

by.,.,.,
edi suryadi